Kamis, 22 Juli 2010

Memanjangkan Kegelisahan Buatkan Penitian Kedewasaan

Memang hidup ini penuh misteri antara hal yang didepan. Maka demi mewujudkan suatu kebahagian perlu disiasati ataupun diperlukan strategi. Membicarakan daya pikir tentunya berdekatan dengan emosi. Maka kunci dari semua adalah mensetabilkan demi dapatkan hal yang tanpa beban.

Dipayungi pada kegelisahan rupa rupanya adalah sangat riskan pada banyak pertanyaan. Tapi hal inilah yang justru jadi hal yang mampu dewasakan daripada pemikiran kita. Kenapa, dari itupun tentunya kita akan mencari tahu dan memainkan pemerasaan otak. Emosi kadang jadi kunci yang dipertaruhkan dan bahkan demi semua itu buat tangis ataupun kemarahan.

Dari bentuk ini kita harus belajar daripada membuat hal hal positif yang dapat ditunjukkan. Maka janganlah menjadi orang yang diam demi sebuah jawaban. Karena memugar suatu dengan jejak pendapat kita bisa sedikit banyak tahu pribadi lawan.

Mungkin saja kita bisa bohong pada orang lain tapi kita tidak bisa bohongi dari pada diri sendiri. Keadaan ini terkadang membuat kita menjadi bertanya tanya, gaduh ataupun labil dan menjadikan penyakit hati.

Sabtu, 05 Juni 2010

Bila Kepercayaan Dipertanyakan

Dimana kita mengenal ada datang ada pergi. Seakan itulah adanya hidup ini, entah secara sengaja ataupun tidak sengaja. Seakan hubungan retak dari akibat keadaan majemuk atau sepi. Dimana muncul tanya, keman dan lagi bagaimana.

Memang adanya rentan dengan hasutan ataupun adanya emosi yang buyarkan banyak hal. Seperti adanya terberdaya oleh keadaan lamunan menjadikan pikiran yang tidak wajar.

Tentu saja hubungan tanpa ada kepercayaan tidak akan berjalan harmonis. Tapi disisi lain terkadang janji jadikan hal untuk dikhianati.

Memang cinta kemana mana selalu ada ujian, entah dari sana ataupun dari situ. Seperti keadaan yang selalu beraproganda. Lalu bagaimana siasatnya.

Ini adalah caraku, mungkin bisa diterapkan:

1. Berpikiran positif.

Dimana nilai gelisah banyak datang dari terka menerka. Yang malah jadikan buruknya pemikiran.

2. Percayakan semua pada diri.

Dari banyak hal kadang orang terhasut atau terberdaya makan orang. Sebenarnya jika jalinan erat lewat diri bisa dirasa.

3. Memberikan waktu.

Ini penting seakan dimana memastikan juga menjadikan nilai perhatian.

4. Membedakan gaya hubungan atau percakapan.

Jelas kita bisa tengok gaya romantis ataupun gaya antar lawan jenis. Dihal ini harus tahu apa yang dijadikan perbedaan.

5. Kalau sedang sendiri coba sibukkan dengan hal yang positif.

Disini mudah misalnya lakukan hobi atau kesenangan diri agar tidak terlalu banyak lamunan. Karena kadang kesepianlah muncul namanya perselingkuhan.

Dari itu saja sebenarnya mudah, cuma kadang karena memang watak atau kelakuan kelakuan buruk yang terbawa.

Kepercayaan penting seperti nilai jalan tanpa rambu akan tersesat pada akhirnya.

Kamis, 03 Juni 2010

Ketika Keadaan Terpuruk

Memankul adanya suatu perkara kehidupan. Terkadang kita terpuruk diadanya , bahkan kadang kita jatuh dalam garisnya. Tapi perlu kita ketahui bahwa semua ada jalan keluar dari mana dan kemana. Bahkan kita kadang diuji karena adanya lemahnya pemikiran yang segar, atau ketakutan yang mencuat.

Lihatlah cinta itu jamu atau menuju pendewasaan kita. Kenapa? Karena tentu saja kita diajarkan pada pemecahan kesabaran.

Maka dalam menilai perkara itu yaitu:

1. Dengan kita menengok dari dekatnya keadaan lalu.

Jangan jadikan hal kecil jadi cuat, tapi ingat apa yang pernah ada. Walaupun kadang ada keburukan tapi tanpa itu semua nilai dalam hubungan tidak ada warna.

2. Mulailah melihat sebagai kesabaran.

Jadikan suatu hal itu sebagai perbandingan dari besarnya kita serius dalam hubungan. Dimana menjejakinya perlu ujian sebagai olahan dari penguat kedekatan.

3. Menjadikan pemikiran yang positif.

Kita harus tahu semua orang punya problem ataupun jadi ujung emosi sesaat. Maka kita jangan buru buru bertindak. Tapi mulai tanya kenapa dia begitu, adakah yang salah dari kita atau dia.

4. Menerapkan diri diam ataupun mengalah dahulu.

Suatu hal tentunya cuatkan kita pada suatu ego yang kadang lupa kebutuhan lain. Kalau semua menuntut ego apakah yang terjadi, bukankah semua malah tambah runyam atau terpekik.

Dasarnya kunci semua penenangan dan pengertian dari kejadian. Agar tertuju pada kebersihan suatu hal pemikiran agar jadi hal yang membangun.

Ketika Cinta Itu Berapi

Diliang rona emosi keberadaan cinta terkadang diujung tanduk. Menyikapi dari konflik inilah kita harus terapi. Apakah dengan memulai memberikan jauh ataukah dekat. Ketika itu kadang bisa saja jadi antara diri diatas lereng. Jalan yang lalai bisa musnahkan semua adanya cinta.

Desir diterapi didalam api yang kadang naik turun. Perlu jagaan yang begitu kita mulai. Maka ketika kududuk diadanya cuaca. Kuhangatkan diri dengan isapan rokok.

Rokok kita kenal sangat jadi hal candu dalam masyarakat. Nilainya sudah mulai rata dianggap hal yang lumrah. Bukan saja nilainya kadang telah lebih utama dari keberadaan kebutuhan lain. Rokok memang terasa nikmat dan mantap tetapi juga bahaya bagi tubuh. Karena nikotin inilah kita sulit dan selalu mau menghisap.

Maka kinipun kita padankan pada nyalanya. Dimana dia beri hal contoh hal yang begitu nyata. Dimana kita lihat memang biasa , lucur dianya kadang tidak ada yang menarik. Tapi kadang kita terikut karena lihat orang lain hisap begitu nikmat. Dimana memang tiba pada saat mulai kita pegang. Diadanya nyala korek api menjadikan nyala bara pada tembakau. Mulailah asapnya yang buat rangsangan dada. Kenapa juga kita jadikan suatu hal yang jadi pacu jenuh jiwa. Memang kita jadi mencoba menelan agar tidak kemana.

Hisapan hisapan diruang terapi adanya roman. Didesir ketika kita mencoba, maka kadang kita buang putung yang memang tidak berguna. Karena kadang mulut tidak mampu menjadikan daya. Karena telah memasuki hal yang makin bahaya.

Ketika itu kadang kita mulai buang begitu saja. Tanpa sadar telah begitu jadi gunakan adanya. Memang kadang lupa pada dimana sesungguhnya. Apakah didada ataukah ada disemerbak ruang mau bahaya. Coba bila kau lupa bara itu menyambar semua. Dirimu bisa jadi gila ataupun mati binasa.

Putung itu juga butuh tata, ketika kita nyalakan maka layaknya kita matikan. Dia datang dari desiran tertata, maka layaknya kau buang ditempat yang telah diberikan juga. Maka kita aman dan senang kerapian semua rongga.

Desir rokok terapi jiwa. Memulai guna jangan lupa ditata. Memekik biasa tapi undang pesona. Layaknya tak berguna kita tinggal saja. Karena kita butuh adanya tetap sehat raga. Maka kita juga buang dengan tata. Bila kau buang begitu saja. Lihat semua adanya lautan bara.

Rabu, 02 Juni 2010

Ketika Rindu Yang Menghampar

Seperti adanya memang seperti sumilirnya keadaan rona cinta. Dimana kita ada saatnya berkata gairah gairah senyawa. Dimana terlihat indah wujud bersama seakan merangkul semua.

Ketika kau duduk diluasnya alam maka ada piranti tirani keindahan. Luas hamparan harapan harapan disemesta. Menjadikan romantisnya hijau keadaan alam cinta. Seperti bentangnya ilalang yang menari dikaidah pengharapan.

Bukan semesta juga bukan rongga tetapi keadaannya adalah cahaya. Cahaya kadang kita asingkan lupa pada keadaan nyatanya, diman sungguhnya itulah nilai cuat adanya.

Seperti ilir ilir kasad mata semua mengena dan terasa. Desi landai pada pertarungan mencari makna. Dimana alang alang membukakan banya cerita cinta. Diterapi dari adanya nilai fakta, bukan hanya mencoba tapi takut sengsara. Tapi dicoba agar dapatkan warna. Maka lihatlah tarian alang alang yang katanya biasa.

Kita lajur pada goresnya tidak kau rasa tapi langsung bertanda kemudian muncul perihnya. Karena kebanyakan hanya lihat indahnya bukan kenapa dibergerumun, kenapa dia menari dan kenapa dia bisa membentang adanya.

Janganlah pandang cinta dari jauh tapi dekatlah apa yang jadi indah dari jauh. Bukankah karena ada gerumbulan yang berbeda. Menggabung dari buruknya rupa. Dimana jadi surga para hewan dan tandusnya tanah. Lihat adanya kerasnya semua bukan karena rawat ataupun dijaga, tapi liar memampai agar punya makna.

Kemurnian Cinta

Menengok dari adanya kata kemurnian maka terbayang suatu yang suci. Mungkinkah ada, ataukah hanya angan. Kita dalam mengenal adanya cinta perlu sadari bukannya kita makluk yang tidak luput dari salah dan dosa.

Kesalahan memang dekat sekali dengan kita. Bahkan kadang kita jadi tidak mengerti dimana kurang dan salah kita. Hal inilah karena adanya suatu yang hilangnya pandangan. Tidak perlu dipungkiri ataupun disalahkan cinta memang paling banyak dari kata hawa dan nafsu.

Disini pasti tercengang kenapa? Karena nafsu adalah kata dari rasa. Disinilah nilai gairah seperti candu dimanusia. Bilapun orang bilang kesalahan itu wajar, lalu pandangannya apa?
Inilah hal yang terkadang jadi kebiasaan tanpa mengerti salah itu sendiri. Dimana kadang nanti bisa diperbaiki. Kita juga punya perasaan dan emosi yang tentu saja semua punya kadar dan batasan.

Kembali kenafsu manusia, lalu apakah sama dengan binatang hanya untuk menjadikan keturunan dan kepuasan birahi. Coba kau bagaimana apakah telanjang seperti hewan, tentunya punya malu bukan. Inilah orang masih punya pikiran walau kadang buruk sekalipun, kecuali orang gila. Tapi orang gila memang punya pikiran kadang dia lebih pintar dari kamu. Kemana yang sebenarnya?
Kembali lagi kerasa itulah ada penjiwaan. Jadi nilainya adalah selalu juga menjaga jiwa diri agar mengerti juga jiwa orang lain.

Yang jadi masalah tentu saja kebiasaan atau watak yang terkadang teramat sulit dan membingungkan. Hadirnya inilah kau harus mengerti keberadaan kebutuhan. Dimana suatu itu perhitungkan nilai timbal baliknya.

Selasa, 01 Juni 2010

Ketika Cinta Dilantunkan

Ketika aku duduk dan terdiam dalam keadaan malam seketika aku membujur beku yang dingin. Maka kuhidangkan segelas aroma kopi biar hangatkan keadaan.

Aku tatap dan kulihat banyangan ketika gelas itu kosong. Inilah wadah yang bisa diisi. Tapi apakah nilainya terwujud diwadah ataukah dimana?

Seperti desir desir kaca yang terpandang diutasnya, kumulai beri nilai sentuhan. Kutuang pahit kopi yang lembut dan kutuang butir gula yang mengkilap. Dan kuisi dengan air yang panas seperti cucuran emosi. Maka kupun bertanya ini kopi?

Aneh dan tidak bisa kuterka dari mana gula dan airlah yang menjadi kuasa tapi kenapa kopi yang lembut. Kenapa tidak diberi nama gula?

Itulah adanya nilai manis kadang tidak akan jadi kenang atau berkesan tapi tampilan beda yang lembut.

Maka akupun berkata secangkir kopi cinta, lalu inilah wujud adanya cinta. Diantara wadah yang indah kadang nilai sudah jadi pilihan dan kadang warna juga jadi kesan.

Kupun tanya kenapa pakai gelas kaca dan cawan? Maka inilah cara berdiri dari cinta. Lihat saja betapa nikmatnya bila dengan cawan dituang kopi lalu dikecup.

"Hemm mantap" kataku. Apa kah itu?
Kopi cawan ataukah gula? Tentunya dari aroma rasa dan adonan kopi gula dengan nuansa cawan agar dapatkan hangat yang pas.

Kupun lalu lihat dicangkir dan bilang,"kenapa tetap ada sisa, apalagi kalau sudah lama".

Kupun dapat garis atau pikir dan mengungkapkan, yaitu:

1. Kopi adalah lembut dan bersisa pada akhirnya.

2. Gelas wadah maka jadilah muka, tapi kadang bukan jaminan.

3. Seperti air jadilah warna agar jadi penasaran.

4. Cawan gelora jadilah nuasa.

5. Kopi kadang kita jadi semangat.

6. Aroma tambahkan minat untuk meminumnya.

7. Gula kemana kadang tak terlihat biasa terbawa arus.

8. Hangat jadi hal pelan, dingin wah tak ada aroma.

9. Semua kerjasama dalam adanya.

10. Kalau tambah garam maka makin terjaga apalagi tanpa gula.

Cintapun adalah melihat waktu yang pas atau hilang dirasa dan aroma. Seperti kaki untuk mendirikan biar tidak lama menunggu.

Senin, 31 Mei 2010

Ketika Kerinduan Dipertanyakan

Terkadang beginilah kita melajur pada hal yang begitu penuh tanya. Seakan cuatan kerinduan kita baru sadari daripada akan laku yang sudah. Kemana dan apa saat itu?
Dari ini saja nilai rindu adalah kedamain, dimana utasnya kita sadari apa yang jadi kurang dari laku kita.

Seperti kitap tatap siang dan ketika tatap malam, dimana dua warna berbeda. Disini ada bulan dan ada matahari, lihat inilah adanya rindu kita. Seakan dimana siang yang begitu menjadikan kita panas dan berkeringat. Dimana kadang hanya meninggikan emosi dalam suasana tanpa pikirkan hal yang dibelakang. Akhirnya seperti desir lembayung tiba, besyair:

PINTU PINTU PEMISAH...

Kumulai resah dengan semua adanya...
Terpantulnya indah dalam senyuman...
Memapas ruang sendi peradaban...
Ketika tiba penutupan sang siang...

Tercuat rindu pada kehangatan...
Tapi memang itulah kehidupan...
Salam datang dengan pelan...
Salam pergi dan menghilang...

Kupapar agar ada senyuman...
Kurias dengan adanya renungan...
Maka kulambai arti kenangan...
Kupun berdiri diperaduan...

Maka kita akan berbijak dari malam, kadang menyakan dimana, kupun syairkan:

KETIKA BULAN BERIKAN PANTULAN...

Seperti kaca yang memberkas...
Seperti sendi yang teruas...
Dasar dari arti jagaan...
Ketika ada perpisahan...

Maka seakan lamun jadi pujaan...
Tapi lihat dalamnya dada...
Lajur pelan dalam kebisingan...
Jelajahi dalam mencari kebaikan...

Seperti adanya bila kau percaya...
Seakan semua tetap ada...
Ketika bulan purnama yang begitu menawan...
Itulah hati sang mentari...

Minggu, 30 Mei 2010

Apakah Cinta?

Pada hakikatnya kita hidup didunia adalah diajarkan untuk romantis atau menyeimbangkan. Kadar keberadaannya begitu sangat menjadikan kita terbingung dan bertanya. Kadang hal ini jadikan alasan ataupun dijadikan hal untuk menguasai keadaan.

Cinta datangnya memang sulit sekali diterka datangnya, bahkan kita saja kadang terbingung dalam keberadaannya. Jangan salah karena kadang itu dekat sekali dengan hawa nafsu. Dimana kita bisa dibutakan olehnya.

Menyikapi daripada ini lihat kenapa kalau cinta ada amarah dan kegetiran. Adanya kan suatu nilai keiklasan dalam penerapan. Jangan pungkiri atau bohongi diri sendiri seperti benci bilang cinta. Dimana utasnya kita selalu jadi hal yang mendudukan cinta pada hal nomor satu.

Cinta kita sebenarnya adalah kepada diri sendiri dimana kita mencari bahagia. Janganlah memaksakan suatu adanya asmara kepada yang lain. Tapi juga jangan memainkan adanya cinta itu sendiri. Karena kadang hal ini dilakukan terpaksa atau sebuah ambisi lain untuk dijadikan perjuangan yang salah.

Lihatlah sosok Ibu dimana dialah gambaran cinta sesungguhnya. Dimana dia tulus dan iklas menjadikan kita pacu dan motivasi untuk berjuang. Seakan dia hanya mau membahagiakan kita, kadang ia sampai lupa dengan adanya. Dari situlah tengoklah hal seperti itu.

Lalu bagaimanakah kita tahu adanya cinta dari pandangannya?
Lihat ini ada ciri yang didapatkan:
1. Didalam keadaannya kau selalu ingin lihat senyumannya.
2. Dalam melihat kesedihan dia, kau selalu terdorong untuk menemani.
3. Kadang kau malu bila diadanya.
4. Kau selalu berdesir rindu. Tapi ingat bila ada mimpi ditidurmu pasti bukan cinta tapi terikat molek aduhai dia.
5. Diadanya selalu berpikir positif atau selalu sejalan.
6. Selalu pandang dia sebagai pacu motivasi.
7. Datangkan kegelisahan.

Dari adanya cinta kadang kita juga lupa atau loyal diadanya. Seakan dimana kita patah hati jadi alasan dendam ataupun keputus asaan. Dari nyatanya kita tengok untuk apakah itu cinta? Cinta sebenarnya adalah terapi untuk tautan jiwa hati agar kita menyelaraskan pada kaidah manusia sebagai makluk yang melajurkan warisan.

Dari ini saja kadang orang jadi menyampingkan urusan, dimana lupa dari kebutuhan sendiri. Dimana kadang Tuhan dan orang tua dianggap nomor belakang. Kita ikuti hanya agar bisa bersanding. Apakah itu , apakah seperti di novel Romeo Juliet, di film Tetanic. Sungguh nafsu kalau seperti itu.

"Cinta desiran perlahan tetapi bisa jerumuskan pada kesengsaraan. Maka lajurlah di cinta diri maka akan mengenal arti untuk semua".